"Tata."
"Ya, Kak?"
"Aku merasa sedang kesulitan, hm..."
"Ceritakan saja padaku, kalau kau sedang kesulitan."
"Entah kenapa Ta. Akhir-akhir ini aku merasa kesal. Aku ingin marah, tetapi aku tidak berhak. Aku tidak ingin merasakan kesakitan. Sakit yang berasal dari sesuatu yang...aku tidak tahu bagaimana harus menyebutnya. Sesuatu itu mengganjal di tenggorokan, terasa semakin membesar ketika aku semakin marah. Sesuatu itu juga berduri, membuatku kesulitan bernapas. Semakin aku ingin marah lagi, sesuatu itu meluncur ke dasar hati. Membuat sesak. Pada akhirnya aku memang tidak bisa meluapkan kemarahanku. Menahannya semakin membuatku kesakitan.
Tapi seketika, kemarahan itu berganti menjadi kesedihan. Kesedihan yang menyesakkan. Rasanya ingin menangis, tapi aku juga harus menahannya. Aku sudah berjanji tidak akan mudah menangis lagi. Aku jadi ingat...
"Aku pernah merasa kesakitan. Aku marah, kemudian aku meluapkannya pada Ibuku. Ibuku merasakan kekesalanku. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba aku menangis. Menangis karena aku marah, aku marah karena tidak dapat melalui kesulitan itu. Ibuku berbalik memarahiku. Ibuku bilang, tidak akan selesai masalahku jika aku hanya meratapinya. Aku harus bergerak menyelesaikan masalah itu.
"Maka... sekarang aku tidak berani menghadap Ibuku. Aku hanya bisa membagikan perasaanku padamu, Ta."
20/12/2017.
"Kak, I am sure you can face and solve your problems. And... jangan pernah sungkan untuk membagikan kesulitanmu padaku. Aku mendengarmu, walaupun aku belum tentu bisa membantumu keluar dari kesulitan itu."
"Ya, Kak?"
"Aku merasa sedang kesulitan, hm..."
"Ceritakan saja padaku, kalau kau sedang kesulitan."
"Entah kenapa Ta. Akhir-akhir ini aku merasa kesal. Aku ingin marah, tetapi aku tidak berhak. Aku tidak ingin merasakan kesakitan. Sakit yang berasal dari sesuatu yang...aku tidak tahu bagaimana harus menyebutnya. Sesuatu itu mengganjal di tenggorokan, terasa semakin membesar ketika aku semakin marah. Sesuatu itu juga berduri, membuatku kesulitan bernapas. Semakin aku ingin marah lagi, sesuatu itu meluncur ke dasar hati. Membuat sesak. Pada akhirnya aku memang tidak bisa meluapkan kemarahanku. Menahannya semakin membuatku kesakitan.
Tapi seketika, kemarahan itu berganti menjadi kesedihan. Kesedihan yang menyesakkan. Rasanya ingin menangis, tapi aku juga harus menahannya. Aku sudah berjanji tidak akan mudah menangis lagi. Aku jadi ingat...
"Aku pernah merasa kesakitan. Aku marah, kemudian aku meluapkannya pada Ibuku. Ibuku merasakan kekesalanku. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba aku menangis. Menangis karena aku marah, aku marah karena tidak dapat melalui kesulitan itu. Ibuku berbalik memarahiku. Ibuku bilang, tidak akan selesai masalahku jika aku hanya meratapinya. Aku harus bergerak menyelesaikan masalah itu.
"Maka... sekarang aku tidak berani menghadap Ibuku. Aku hanya bisa membagikan perasaanku padamu, Ta."
20/12/2017.
"Kak, I am sure you can face and solve your problems. And... jangan pernah sungkan untuk membagikan kesulitanmu padaku. Aku mendengarmu, walaupun aku belum tentu bisa membantumu keluar dari kesulitan itu."

Komentar
Posting Komentar