Pernah dengar kata-kata semacam: manusia tak pernah luput dari kesalahan.
Manusia tak pernah luput dari kesalahan. Kalau dia sadar melakukan kesalahan, maka tak luput juga dari yang namanya penyesalan.
Tapi pasti tidak sih, kalau melakukan kesalahan secara sadar kemudian otomatis timbul rasa yang dinamakan menyesal?
-
Sebenarnya cuma mau cerita seperti ini:
Walaupun memang sejak lama tak pernah terhindar dari kesalahan, tapi baru kali ini, bahkan akhir-akhir ini saya menciptakan banyak kesalahan. Entah pada orang lain, entah pada diri sendiri.
Satu contoh, kesalahan hari ini yang berujung penyesalan (dan kekesalan).
Ceritanya sedang ujian pasca melakukan sebuah kewajiban sebagai salah satu manusia yang menuntut ilmu di sebuah instansi pendidikan, yang disebut dengan: pengabdian kepada masyarakat.
Sudah datang terlambat, terburu-buru oleh waktu dan teman-teman satu regu (hmmm teman-teman), satu pertanyaan jadi tidak terjawab maksimal. Padahal kalau dilihat, pertanyaan itu seperti sebuah jackpot(?) yang memberikan pengaruh besar pada keseluruhan penilaian. Pertanyaan itu tentang apa kontribusi saya terhadap regu dan masyarakat.
Bodohnya, luputnya, dan kok ya bisa-bisanya saya tidak menuliskan jawaban pertanyaan itu secara mendetail, melainkan secara umum dan luas yang mana kalau dipahami secara mendalam dapat terlintas pikiran "hah, semua orang begitu juga bisa kalau dalam sebuah kelompok."
Satu kata tanya jadi memukul kepala saya dengan keras, berulang kali: kenapa?
Kenapa bisa yang terlintas dipikiran hanya diksi itu-itu saja?
Kenapa tidak ada kreativitas dari dalam kepala?
Kenapa kok tulisan tangannya juga jadi jelek pas nulis jawaban?
Maaf, kalau tulisan tangan sih saya memang jelek. Apalagi kena dampak diburu-buru waktu dan ya.... mereka. Maaf (lagi) kok saya jadi menyalahkan orang lain?
Eh, tapi memang rasanya begitu kok.
Padahal nih ya padahal, ya ampun. Bisa saja saya menuliskan seperti ini:
kontribusi saya terhadap regu antara lain menjadi desainer gratisan, menjadi ketua regu dadakan, menjadi sekretaris dadakan, menjadi pengganti pj satu buah acara secara dadakan, memberikan ide-ide dan pendapat (yang seringnya ditentang dan berakhir didiamkan dan tidak dianggap ada untuk sementara), mengikuti semua program kerja dari awal hingga akhir, dan masih banyak lagi karena saya lupa pada masa itu saya mengerjakan apa saja.
Terbaca sombong dan sok sekali ya? Tapi ya gimana ya, kalau seperti itu 'kan sebenarnya jadi jelas kalau pada masa-masa itu saya tidak sekedar makan-tidur-(buang air juga)-dan mandi. Hah
Tapi ya sudahlah, nasi telah habis tertelan, tidak bisa dimuntahkan lagi. Ya karena menjijikkan.
Sekarang cuma bisa berdoa--walaupun rasa menyesal itu kadang merundung--supaya dapat hasil yang memuaskan (AAMIIN). Semoga tidak ada predikat "mengulang". Karena kalau mengulang, biaya hidupnya itu lhoooooo. Selain itu kalau mengulang juga pasti ada rasa kalau sebelumnya diri ini hanya melakukan sebuah kerja keras namun berujung sia-sia, huhuhu. Pathetic sekali ya.
Selesai.
Satu kesalahan dari jutaan lainnya.
-
Ketidakjelasan dan ke-"nir"-faedah-an tulisan ini diketik dengan jari-jari yang kukunya mulai memanjang pada saat hawa tetap panas walaupun langit sudah berwarna hitam kelam.
Menyesal ya setelah membaca ini secara sadar?
Tenang, itu bukan sebuah kesalahan. Jadi tak perlu menyesal.
Manusia tak pernah luput dari kesalahan. Kalau dia sadar melakukan kesalahan, maka tak luput juga dari yang namanya penyesalan.
Tapi pasti tidak sih, kalau melakukan kesalahan secara sadar kemudian otomatis timbul rasa yang dinamakan menyesal?
-
Sebenarnya cuma mau cerita seperti ini:
Walaupun memang sejak lama tak pernah terhindar dari kesalahan, tapi baru kali ini, bahkan akhir-akhir ini saya menciptakan banyak kesalahan. Entah pada orang lain, entah pada diri sendiri.
Satu contoh, kesalahan hari ini yang berujung penyesalan (dan kekesalan).
Ceritanya sedang ujian pasca melakukan sebuah kewajiban sebagai salah satu manusia yang menuntut ilmu di sebuah instansi pendidikan, yang disebut dengan: pengabdian kepada masyarakat.
Sudah datang terlambat, terburu-buru oleh waktu dan teman-teman satu regu (hmmm teman-teman), satu pertanyaan jadi tidak terjawab maksimal. Padahal kalau dilihat, pertanyaan itu seperti sebuah jackpot(?) yang memberikan pengaruh besar pada keseluruhan penilaian. Pertanyaan itu tentang apa kontribusi saya terhadap regu dan masyarakat.
Bodohnya, luputnya, dan kok ya bisa-bisanya saya tidak menuliskan jawaban pertanyaan itu secara mendetail, melainkan secara umum dan luas yang mana kalau dipahami secara mendalam dapat terlintas pikiran "hah, semua orang begitu juga bisa kalau dalam sebuah kelompok."
Satu kata tanya jadi memukul kepala saya dengan keras, berulang kali: kenapa?
Kenapa bisa yang terlintas dipikiran hanya diksi itu-itu saja?
Kenapa tidak ada kreativitas dari dalam kepala?
Kenapa kok tulisan tangannya juga jadi jelek pas nulis jawaban?
Maaf, kalau tulisan tangan sih saya memang jelek. Apalagi kena dampak diburu-buru waktu dan ya.... mereka. Maaf (lagi) kok saya jadi menyalahkan orang lain?
Eh, tapi memang rasanya begitu kok.
Padahal nih ya padahal, ya ampun. Bisa saja saya menuliskan seperti ini:
kontribusi saya terhadap regu antara lain menjadi desainer gratisan, menjadi ketua regu dadakan, menjadi sekretaris dadakan, menjadi pengganti pj satu buah acara secara dadakan, memberikan ide-ide dan pendapat (yang seringnya ditentang dan berakhir didiamkan dan tidak dianggap ada untuk sementara), mengikuti semua program kerja dari awal hingga akhir, dan masih banyak lagi karena saya lupa pada masa itu saya mengerjakan apa saja.
Terbaca sombong dan sok sekali ya? Tapi ya gimana ya, kalau seperti itu 'kan sebenarnya jadi jelas kalau pada masa-masa itu saya tidak sekedar makan-tidur-(buang air juga)-dan mandi. Hah
Tapi ya sudahlah, nasi telah habis tertelan, tidak bisa dimuntahkan lagi. Ya karena menjijikkan.
Sekarang cuma bisa berdoa--walaupun rasa menyesal itu kadang merundung--supaya dapat hasil yang memuaskan (AAMIIN). Semoga tidak ada predikat "mengulang". Karena kalau mengulang, biaya hidupnya itu lhoooooo. Selain itu kalau mengulang juga pasti ada rasa kalau sebelumnya diri ini hanya melakukan sebuah kerja keras namun berujung sia-sia, huhuhu. Pathetic sekali ya.
Selesai.
Satu kesalahan dari jutaan lainnya.
-
Ketidakjelasan dan ke-"nir"-faedah-an tulisan ini diketik dengan jari-jari yang kukunya mulai memanjang pada saat hawa tetap panas walaupun langit sudah berwarna hitam kelam.
Menyesal ya setelah membaca ini secara sadar?
Tenang, itu bukan sebuah kesalahan. Jadi tak perlu menyesal.
Komentar
Posting Komentar